Makalah
Sistem
Koloid
Di Ajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Pelajaran Kimia
Guru pengajar : Jupri, S.Pd.,M.M.Pd
Disusun
Oleh :
Arinah
Indraswari
Kelas : XI IPA 1
SMA
NEGERI 1 KRANGKENG
2013
/ 2014
Jalan Raya
Krangkeng No. 1 Telp. (0234) 7006485 Indramayu Kode Pos 45284
KATA
PENGANTAR
Assalamualaikum wr, wb
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah memberi kekuatan
dan kesempatan kepada kami, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan
waktu yang di harapkan walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana.
Dengan adanya makalah ini,mudah-mudahan dapat membantu
meningkatkan minat baca dan belajar teman-teman.selain itu kami juga berharap
semua dapat mengetahui dan memahami tentang materi ini, karena akan
meningkatkan mutu individu kita. Kami sangat menyadari bahwa dalam pembuatan
makalah ini masih sangat minim,sehingga saran dari guru pengajar
serta kritikan dari semua pihak masih kami harapkan demi perbaikan laporan ini.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
menyelesaikan makalah ini.
Krangkeng, Mei 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
......................................................................................1
DAFTAR ISI
.....................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN
.................................................................................3
A. Latar Belakang
..................................................................................3
B. Rumusan Masalah
.............................................................................3
C. Tujuan
...............................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
..................................................................................4
A. Pengertian
Koloi………………………………………………………4
B. Jenis-Jenis
Koloid…………………………………………………….4
C. Sifat-Sifat
Koloid……………………………………………………..5
D. Pembuatan
Sistem Koloid…………………………………………….7
E. Kegunaan Koloid……………………………………………………...9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
.....................................................................................10
DAFTAR
PUSTAKA ………………………………………………………...11
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sistem
koloid merupakan suatu bentuk campuran dua atau lebih zat yang bersifat homogen
namun memiliki ukuran partikel terdispersi yang cukup besar (1 - 100 nm), sehingga terkena efek Tyndall. Bersifat homogen berarti partikel
terdispersi tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya lain yang dikenakan kepadanya;
sehingga tidak terjadi pengendapan, misalnya. Sifat homogen ini juga dimiliki
oleh larutan, namun tidak dimiliki oleh
campuran biasa (suspensi).
Koloid mudah dijumpai di mana-mana: susu, agar-agar, tinta, sampo, serta awan
merupakan contoh-contoh koloid yang dpat dijumpai sehari-hari. Sitoplasma dalam sel
juga merupakan sistem koloid. Kimia koloid
menjadi kajian tersendiri dalam kimia industri
karena kepentingannya.
B. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan system
koloid?
b. Jelaskan macam-macam system
koloid?
c. Bagaimana sifat-sifat koloid?
d
Bagaimana proses pembuatan sistem koloid?
e. Apa saja komponen system koloid,
bentuk partikel dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari?
C. Tujuan
a. Agar pembaca dapat mengetahui
system koloid.
b. Agar pembaca mengetahui
macam-macam system koloid.
c. Agar pembaca mengetahui
sifat-sifat koloid.
d. Agar pembaca mengetahui proses pembuatan
sistem koloid.
e. Agar pembaca mengetahui komponen
sistem koloid, bentuk partikel dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Koloid
Koloid
adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di
mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang
dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/
pemecah). Ukuran partikel koloid berkisar antara 1-100 nm. Ukuran yang dimaksud
dapat berupa diameter, panjang, lebar, maupun tebal dari suatu partikel. Contoh
lain dari sistem koloid adalah adalah tinta, yang terdiri dari serbuk-serbuk
warna (padat) dengan cairan (air). Selain tinta, masih terdapat banyak sistem
koloid yang lain, seperti mayones, hairspray, jelly, dll.
Keadaan
koloid atau sistem koloid atau suspensi koloid atau larutan koloid atau suatu
koloid adalah suatu campuran berfasa dua yaitu fasa terdispersi dan fasa
pendispersi dengan ukuran partikel terdispersi berkisar antara 10-7 sampai
dengan 10-4 cm. Besaran partikel yang terdispersi, tidak menjelaskan keadaan
partikel tersebut. Partikel dapat terdiri atas atom, molekul kecil atau molekul
yang sangat besar. Koloid emas terdiri atas partikel-partikel dengan bebagai
ukuran, yang masing-masing mengandung jutaan atom emas atau lebih. Koloid
belerang terdiri atas partikel-partikel yang mengandung sekitar seribu molekul
S8. Suatu contoh molekul yang sangat besar (disebut juga molekul makro) ialah
haemoglobin. Berat molekul dari molekul ini 66800 s.m.a dan mempunyai diameter
sekitar 6 x 10-7.
B.
Jenis-Jenis Koloid
Sistem
koloid tersusun dari fase terdispersi yang tersebar merata dalam medium
pendispersi. Fase terdispersi dan medium pendispersi dapat berupa zat padat,
cair, dan gas. Berdasarkan fase terdispersinya, sistem koloid dapat
dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
1.
Sol (fase terdispersi padat)
a. Sol padat adalah sol
dalam medium pendispersi pada
Contoh:
paduan logam, gelas warna, intan hitam
b. Sol cair adalah sol
dalam medium pendispersi cair
Contoh: cat,
tinta, tepung dalam air, tanah liat
c.
Sol gas adalah sol dalam medium pendispersi gas
Contoh: debu
di udara, asap pembakaran
2.
Emulsi (fase terdispersi cair)
a.
Emulsi padat
adalah emulsi dalam medium pendispersi padat
Contoh: Jelly, keju, mentega, nasi
b. Emulsi cair adalah
emulsi dalam medium pendispersi cair
Contoh: susu, mayones, krim tangan
c. Emulsi gas adalah
emulsi dalam medium pendispersi gas
Contoh: hairspray dan obat nyamuk
3.
Buih (fase terdispersi gas)
a.
Buih padat adalah buih dalam medium pendispersi padat.
Contoh: Batu
apung, marshmallow, karet busa, Styrofoam
b.
Buih cair adalah buih dalam medium pendispersi cair
Contoh:
putih telur yang dikocok, busa sabun
Untuk pengelompokan buih, jika fase
terdispersi dan medium pendispersi sama- sama berupa gas, campurannya tergolong
larutan
C.
Sifat-Sifat Koloid
a.
Efek Tyndall
Efek Tyndall
ialah gejala penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh partikel-partikel koloid.
Hal ini disebabkan karena ukuran molekul koloid yang cukup besar. Efek tyndall
ini ditemukan oleh John Tyndall (1820-1893), seorang ahli fisika Inggris. Oleh
karena itu sifat itu disebut efek tyndall.
Efek tyndall
adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan
sejati (gambar kiri) disinari dengan cahaya, maka larutan tersebut tidak akan
menghamburkan cahaya, sedangkan pada sistem koloid (gambar kanan), cahaya akan
dihamburkan. hal itu terjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel
yang relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya, pada
larutan sejati, partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang
terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati.
b.
Gerak Brown
Gerak Brown
ialah gerakan partikel-partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi
tidak menentu (gerak acak/tidak beraturan). Jika kita amati koloid dibawah
mikroskop ultra, maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan
bergerak membentuk zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown.
Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak.
Gerakan
tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas, atau hanya
bervibrasi di tempat seperti pada zat padat. Untuk koloid dengan medium
pendispersi zat cair atau gas, pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan
tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu sendiri. Tumbukan tersebut
berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran partikel cukup kecil, maka
tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. Sehingga terdapat suatu
resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga
terjadi gerak zigzag atau gerak Brown.
Semakin
kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown terjadi. Demikian pula,
semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi.
Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak
ditemukan dalam zat padat (suspensi). Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu.
Semakin tinggi suhu system koloid, maka semakin besar energi kinetic yang
dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown dari
partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian pula sebaliknya,
semakin rendah suhu system koloid, maka gerak Brown semakin lambat.
c.
Absorpsi
Absorpsi
ialah peristiwa penyerapan partikel atau ion atau senyawa lain pada
permukaan partikel koloid yang disebabkan oleh luasnya permukaan partikel.
(Catatan : Absorpsi harus dibedakan dengan absorpsi yang artinya
penyerapan yang terjadi di dalam suatu partikel). Contoh : (i) Koloid
Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+. (ii) Koloid
As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S2.
d.
Muatan koloid
Dikenal dua
macam koloid, yaitu koloid bermuatan positif dan koloid bermuatan negatif.
e.
Koagulasi koloid
Koagulasi
adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya
koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi dapat
terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara
kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.
f.
Koloid pelindung
Koloid
pelindung ialah koloid yang mempunyai sifat dapat melindungi koloid lain dari
proses koagulasi.
g.
Dialisis
Dialisis ialah
pemisahan koloid dari ion-ion pengganggu dengan cara ini disebut proses
dialisis.
h.
Elektroforesis
Elektroferesis
ialah peristiwa pemisahan partikel koloid yang bermuatan dengan menggunakan
arus listrik.
D.
Pembuatan Sistem Koloid
Reaksi
dekomposisi rangkap
Misalnya:
Sol As2S3 dibuat dengan gaya mengalirkan H2S dengan perlahan-lahan melalui larutan As2O3 dingin sampai terbentuk sol As2S3 yang berwarna kuning terang;
Sol As2S3 dibuat dengan gaya mengalirkan H2S dengan perlahan-lahan melalui larutan As2O3 dingin sampai terbentuk sol As2S3 yang berwarna kuning terang;
As2O3 (aq) + 3H2S(g) à As2O3
(koloid) + 3H2O(l)
(Koloid As2S3 bermuatan negatif karena
permukaannya menyerap ion S2-)
Sol AgCl dibuat dengan mencampurkan
larutan AgNO3 encer dan larutan HCl encer;
AgNO3 (ag) + HCl(aq) à AgCl (koloid)
+ HNO3 (aq)
Pemanasan
nitrat
Jika
dipanaskan, kebanyakan nitrat cenderung mengalami dekomposisi membentuk oksida
logam, nitrogen dioksida berupa asap coklat, dan oksigen.
Sebagai contoh, nitrat Golongan 2
yang sederhana seperti magnesium nitrat mengalami dekomposisi dengan reaksi
sebagai berikut :
Pada Golongan 1, ithium nitrat
mengalami proses dekomposisi yang sama - menghasilkan lithium oksida, nitrogen
dioksida dan oksigen.Akan tetapi, nitrat dari unsur selain lithium dalam
Golongan 1 tidak terdekomposisi sempurna (minimal tidak terdekomposisi pada
suhu Bunsen) - menghasilkan logam nitrit dan oksigen, tapi tidak menghasilkan
nitrogen oksida.Semua nitrat dari natrium sampai cesium terdekomposisi menurut
reaksi di atas, satu-satunya yang membedakan adalah panas yang harus dialami
agar reaksi bisa terjadi. Semakin ke bawah golongan, dekomposisi akan semakin sulit,
dan dibutuhkan suhu yang lebih tinggi.
Pemanasan
karbonat
Jika
dipanaskan, kebanyakan karbonat cenderung mengalami dekomposisi membentuk
oksida logam dan karbon dioksida.Sebagai contoh, karbonat Golongan 2 sederhana
seperti kalsium karbonat terdekomposisi sebagai berikut :
Pada Golongan 1, lithium karbonat
mengalami proses dekomposisi yang sama menghasilkan lithium oksida dan karbon
dioksida.
Karbonat dari unsur-unsur selain
lithium pada Golongan 1 tidak terdekomposisi pada suhu Bunsen, walaupun pada
suhu yang lebih tinggi mereka akan terdekomposisi. Suhu dekomposisi lagi-lagi
meningkat semakin ke bawah Golongan.
E.
Kegunaan Koloid
Sistem
koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan
sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu
dapat digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan
secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi dalam skala besar.
Berikut ini adalah tabel aplikasi
koloid:
|
Jenis
industri
|
Contoh
aplikasi
|
|
Industri
makanan
|
Keju,
mentega, susu, saus salad
|
|
Industri
kosmetika dan perawatan tubuh
|
Krim,
pasta gigi, sabun
|
|
Industri
cat
|
Cat
|
|
Industri
kebutuhan rumah tangga
|
Sabun,
deterjen
|
|
Industri
pertanian
|
Peptisida
dan insektisida
|
|
Industri farmasi
|
Minyak
ikan, pensilin untuk suntikan
|
Berikut ini adalah
penjelasan mengenai aplikasi koloid :
1.
Pemutihan Gula
Gula tebu
yang masih berwarna dapat diputihkan. Dengan melarutkan gula ke dalam air,
kemudian larutan dialirkan melalui sistem koloid tanah diatomae atau karbon.
Partikel koloidakan mengadsorpsi zat warna tersebut. Partikel-partikel koloid
tersebut mengadsorpsi zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat berwarna
putih.
2. Penggumpalan
Darah
Darah
mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif. Jika terjadi luka,
maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik atau tawas yang
mengandung ion-ion Al3+ dan Fe3+. Ion-ion tersebut membantu agar partikel
koloid di protein bersifat netral sehingga proses penggumpalan darah dapat
lebih mudah dilakukan.
3. Penjernihan Air
Air keran
(PDAM) yang ada saat ini mengandung partikel-partikel koloid tanah liat,lumpur,
dan berbagai partikel lainnya yang bermuatan negatif.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
- Partikel
koloid dapat menghamburkan cahaya sehingga berkas cahaya yang melalui sistem
koloid. Dapat diamati dari samping sifat partikel koloid ini disebut efek
Tyndall.
- Jika diamati
dengan mikroskop ultra ternyata partikel koloid senantiasa bergerak dengan
gerak patah-patah yang disebut gerak Brown. Gerak Brown terjadi karena tumbukan
tak simetris antara molekul medium dengan partikel koloid.
- Koloid dapat
mengadsorpsi ion atau zat lainpada permukaannya, dan oleh karena luas
permukaannya yang relatif besar, maka koloid mempunyai daya adsorpsi yang
besar.
- Adsorpsi
ion-ion oleh partikel koloid membuat partikel koloid menjadi bermuatan listrik.
Muatan koloid menyebabkan gaya tolak-menolak di antara partikel koloid,
sehingga menjadi stabil (tidak mengalami sedimentasi).
- Muatan
partikel koloid dapat ditunjukkan dengan elektroforesis, yaitu pergerakan
partikel koloid dalam medan listrik.
- Penggumpalan
partikel koloid disebut koagulasi. Koagulasi dapat terjadi karena berbagai hal,
misalnya pada penambahan elektrolit. Penambahan elekrolit akan
menetralkan muatan koloid, sehingga faktor yang menstabilkannya hilang.
- Koloid yang
medium dispersinya berupa cairan dibedakan atas koloid liofil dan koloid
liofob. Koloid liofil mempunyai interaksi yang kuat dengan mediumnya;
sebaliknya, pada koloid liofob interaksinya tersebut tidak ada
- Koloid dapat
dibuat dengan cara dispersi atau kondensasi. Pada cara dispersi, bahan kasar
dihaluskan kemudian didispersikan ke dalam medium dispersinya. Pada cara
kondensasi, koloid dibuat dari larutan di mana atom atau molekul mengalami
agregasi (pengelompokan), sehingga menjadi partikel koloid.
- Asbut adalah
suatu bentuk pencemaran yang merupakan sistem koloid.
DAFTAR PUSTAKA
Purba,
Michael.2010.Kimia Untuk SMA Kelas XI . Jakarta: ERLANGGA
Parning, dkk. 2006. Kimia SMA Kelas
XI Semester Kedua. Jakarta : Yudhistira. Suharsini, Maria. 2005. Kimia dan Kecakapan Hidup.
Jakarta : Ganesa Exact.
