MAKALAH
HIV
/ AIDS
Di Ajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Pelajaran
PENJAS
Guru pengajar : Pa. Nendi Hendrawan, S.Pd
Disusun
Oleh :
Abdurrahman
F
Arinah
Indraswari
Nasyiatul
Aiysiah
M.
Rifaldi
SMA NEGERI 1 KRANGKENG
2012 / 2013
Jalan Raya Krangkeng
No. 1 Telp. (0234) 7006485 Indramayu Kode Pos 45284
Website: www.sman1krangkeng.org email:info@sman1krangkeng.org
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
wr, wb
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah
memberi kekuatan dan kesempatan kepada kami, sehingga makalah ini dapat
terselesaikan dengan waktu yang di harapkan walaupun dalam bentuk yang sangat
sederhana, dimana makalah ini membahas tentang “HIV/AIDS” dan
kiranya makalah ini dapat meningkatkan pengetahuan kita khususnya tentang
bagaimana dan apa bahaya dari penyakit HIV/AIDS.
Dengan adanya makalah ini,mudah-mudahan dapat
membantu meningkatkan minat baca dan belajar teman-teman.selain itu kami juga
berharap semua dapat mengetahui dan memahami tentang materi ini, karena akan
meningkatkan mutu individu kita.Kami sangat menyadari bahwa dalam pembuatan
makalah ini masih sangat minim,sehingsaran dari dosen pengajar serta
kritikan dari semua pihak masih kami harapkan demi perbaikan laporan ini.Kami
ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan
makalah ini.
Krangkeng, Juni
2013
Penyusun
Daftar Isi
Kata
Pengantar ……………………………………………………….2
Daftar Isi ……………………………….,……….……………………..3
Daftar Isi ……………………………….,……….……………………..3
BAB
I : PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang ………………………………..…….…..…………5
B. Rumusan
Masalah ………………………………………………..5
C. Tujuan
……………………………………………………...……….5
BAB
II: PEMBAHASAN
A. Pengertian
HIV/AIDS ………………………..…………...……….6
B. Etiologi
…………………………………..………………………….7
C. Patofisiologi
………………………………………………………..8
D. Manifestasi
Klinis ……………………………………...………….12
E. Komplikasi
………………………………………..……………….13
F. Pemeriksaan
Penunjang …………………………………...……14
G. Tata
Laksana HIV………………………………………………….15
DAFTAR
PUSTAKA …………………………………………………….17
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seperti
yang kita ketahui bersama, AIDS adalah suatu penyakit yang belum ada obatnya
dan belum ada vaksin yang bisa mencegah serangan virus HIV, sehingga penyakit
ini merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia
baik sekarang maupun waktu yang datang.
Selain itu AIDS juga dapat
menimbulkan penderitaan, baik dari segi fisik maupun dari segi mental. Mungkin
kita sering mendapat informasi melalui media cetak, elektronik, ataupun
seminar-seminar, tentang betapa menderitanya seseorang yang mengidap penyakit
AIDS.
Dari
segi fisik, penderitaan itu mungkin, tidak terlihat secara langsung karena
gejalanya baru dapat kita lihat setelah beberapa bulan. Tapi dari segi mental,
orang yang mengetahui dirinya mengidap penyakit AIDS akan merasakan penderitaan
batin yang berkepanjangan. Semua itu menunjukkan bahwa masalah AIDS adalah
suatu masalah besar dari kehidupan kita semua.
Dengan
pertimbangan-pertimbangan dan alasan itulah kami sebagai pelajar, sebagai
bagian dari anggota masyarakat dan sebagai generasi penerus bangsa, merasa
perlu memperhatikan hal tersebut. Oleh karena itu kami membahasnya dalam makalah
ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian
dari HIV/AIDS ?
2. Bagaimana patofisiologi
virus HIV ?
3. Bagaimana
manifestasi klinik dan pemeriksaan penunjang dalam penanganan penularan virus
HIV/AIDS ?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian HIV/AIDS serta
memahami bahayanya.
2. Mengetahui
dan memahami patofisiologi virus HIV.
3. Mengetahui
dan mendeskripsikan manifestasi klinik dan pemeriksaan penunjang dalam
menangani penularan virus HIV/AIDS.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
HIV/AIDS
AIDS atau Sindrom Kehilangan Kekebalan tubuh
adalah sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia seesudah system
kekebalannya dirusak oleh virus HIV. Akibat kehilangan kekebalan tubuh,
penderita AIDS mudah terkena bebrbagai jenis infeksi bakteri, jamur, parasit,
dan virus tertentu yang bersifat oportunistik. Selain itu penderita AIDS sering
kali menderita keganasan,khususnya sarcoma Kaposi dan imfoma yang hanya
menyerang otak. Virus HIV adalah retrovirus yang termasuk dalam family
lentivirus.
Retrovirus mempunyai kemampuan menggunakan
RNA-nya dan DNA pejamu untuk membentuk virus DNA dan dikenali selam periode
inkubasi yang panjang. Seperti retrovirus yang lain, HIV menginfeksi tubuh
dengan periode imkubasi yang panjang (klinik-laten), dan utamanya menyebabkan
munculnya tanda dan gejala AIDS. HIV menyebabkan beberapa kerusakan system imun
dan menghancurkannya. Hal tersebut terjadi dengan menggunakan DNA dari CD4+ dan
limfosit untuk mereplikasi diri. Dalam prose itu, virus tersebut menghancurkan
CD4+ dan limfosit.
Secara structural morfologinya, bentuk HIV
terdiri atas sebuah silinder yang dikelilingi pembungkus lemak yang
melingkar-melebar. Pada pusat lingkaran terdapat untaian RNA. HIV mempunyai 3
gen yang merupakan komponen funsional dan structural. Tiga gen tersebut yaitugag, pol,
dan env. Gag berarti group antigen, pol mewakili
polymerase, dan env adalah kepanjangan dari envelope (Hoffmann,
Rockhstroh, Kamps,2006). Gen gag mengode protein inti.
Gen pol mengode enzim reverse transcriptase, protease,
integrase. Gen env mengode komponen structural HIV yang
dikenal dengan glikoprotein. Gen lain yang ada dan juga penting dalam replikasi
virus, yaitu : rev, nef, vif, vpu, dan vpr.
Siklus Hidup HIV
Sel pejamu yang terinfeksi oleh HIV memiliki waktu
hidup sangat pendek; hal ini berarti HIV secara terus-menerus menggunakan sel
pejamu baru untuk mereplikasi diri. Sebanyak 10 milyar virus dihasilkan setiap
harinya. Serangan pertama HIV akan tertangkap oleh sel dendrite pada membrane
mukosa dan kulit pada 24 jam pertama setelah paparan. Sel yang terinfeksi
tersebut akan membuat jalur ke nodus limfa dan kadang-kadang ke pembuluh darah
perifer selama 5 hari setelah papran, dimana replikasi virus menjadi semakin
cepat.
Siklus
hidup HIV dapat dibagi menjadi 5 fase, yaitu :
Masuk
dan mengikat
Reverse transkripstase
Replikasi
Budding
Maturasi
Tipe
HIV
Ada
2 tipe HIV yang menyebabkan AIDS:
HIV-1
dan HIV-2.
·
HIV-1
bermutasi lebih cepat karena reflikasi lebih cepat. Berbagai macam subtype dari
HIV-1 telah d temukan dalam daerah geografis yang spesifik dan kelompok
spesifik resiko tinggi
Individu
dapat terinfeksi oleh subtipe yang berbeda. Berikut adalah subtipe HIV-1 dan
distribusi geografisnya:
Sub
tipe A: Afrika tengah
Sub
tipe B: Amerika selatan,brasil,rusia,Thailand
Sub
tipe C: Brasil,india,afrika selatan
Sub
tipe D: Afrika tengah
Sub
tipe E:Thailand,afrika tengah
Sub
tipe F: Brasil,Rumania,Zaire
Sub
tipe G: Zaire,gabon,Thailand
Sub
tipe H: Zaire,gabon
Sub
tipe O: Kamerun,gabon
Sub
tipe C sekarang ini terhitung lebih dari separuh dari semua infeksi HIV baru d
seluruh dunia
B. Etiologi
HIV ialah retrovirus yang di sebut
lymphadenopathy Associated virus (LAV) atau human T-cell leukemia virus
111 (HTLV-111) yang juga di sebut human T-cell lymphotrophic virus
(retrovirus) LAV di temukan oleh montagnier dkk. Pada tahun 1983 di prancis,
sedangkan HTLV-111 di temukan oleh Gallo di amerika serikat pada tahun
berikutnya. Virus yang sama ini ternyata banyak di temukan di afrika tengah.
Sebuah penelitian pada 200 monyet hijau afrika,70% dalam darahnya mengandung
virus tersebut tampa menimbulkan penyakit. Nama lain virus tersebut ialah HIV.
Hiv TERDIRI ATAS hiv-1 DAN hiv-2 terbanyak
karena HIV-1 terdiri atas dua untaian RNA dalam inti protein yang di lindungi
envelop lipid asal sel hospes.
Virus AIDS bersifat limpotropik khas dan
mempunyai kemampuan untuk merusak sel darah putih spesifik yang di sebut
limposit T-helper atau limposit pembawa factor T4 (CD4). Virus ini dapat
mengakibatkan penurunan jumlah limposit T-helper secara progresif dan
menimbulkan imunodefisiensi serta untuk selanjut terjadi infeksi sekunder atau
oportunistik oleh kuman,jamur, virus dan parasit serta neoplasma. Sekali virus
AIDS menginfeksi seseorang, maka virus tersebut akan berada dalam tubuh korban
untuk seumur hidup. Badan penderita akan mengadakan reaksi terhapat invasi virus
AIDS dengan jalan membentuk antibodi spesifik, yaitu antibodi HIV, yang agaknya
tidak dapat menetralisasi virus tersebut dengan cara-cara yang biasa sehingga
penderita tetap akan merupakan individu yang infektif dan merupakan bahaya yang
dapat menularkan virusnya pada orang lain di sekelilingnya. Kebanyakan orang
yang terinfeksi oleh virus AIDS hanya sedikit yang menderita sakit atau sama
sekali tidak sakit, akan tetapi pada beberapa orang perjalanan sakit dapat
berlangsung dan berkembang menjadi AIDS yang full-blown.
C. Patofisiologi Virus HIV/AIDS
1. Mekanisme
system imun yang normal
Sistem
imun melindungi tubuh dengan cara mengenali bakteri atau virus yang
masuk ke dalam tubuh, dan bereaksi terhadapnya. Ketika system imun melemah atau
rusak oleh virus seperti virus HIV, tubuh akan lebih mudah terkena infeksi
oportunistik. System imun terdiri atas organ dan jaringan limfoid, termasuk di
dalamnya sumsum tulang, thymus, nodus limfa, limfa, tonsil, adenoid, appendix,
darah, dan limfa.
o Sel
B
Fungsi
utama sel B adalah sebagai imunitas antobodi humoral. Masing-masing sel B mampu
mengenali antigen spesifik dan mempunyai kemampuan untuk mensekresi
antibodi spesifik. Antibody bekerja dengan cara membungkus antigen,
membuat antigen lebih mudah untuk difagositosis (proses penelanan dan
pencernaan antigen oleh leukosit dan makrofag. Atau dengan membungkus antigen
dan memicu system komplemen (yang berhubungan dengan respon inflamasi).
o Limfosit
T
Limfosit
T atau sel T mempunyai 2 fungsi utama yaitu :
a. Regulasi
sitem imun
b. Membunuh
sel yang menghasilkan antigen target khusus.
Masing-masing
sel T mempunyai marker permukaan seperti CD4+, CD8+, dan
CD3+, yang membedakannya dengan sel lain. Sel CD4+ adalah
sel yang membantu mengaktivasi sel B, killer sel dan makrofag saat terdapat
antigen target khusus. Sel CD8+membunuh sel yang terinfeksi oleh
virus atau bakteri seperti sel kanker.
o Fagosit
o Komplemen
2. Penjelasan
dan komponen utama dari siklus hidup virus HIV
Secara structural morfologinya, bentuk HIV
terdiri atas sebuah silinder yang dikelilingi pembungkus lemak yang
melingkar-melebar. Pada pusat lingkaran terdapat untaian RNA. HIV mempunyai 3
gen yang merupakan komponen funsional dan structural. Tiga gen tersebut yaitugag, pol,
dan env. Gag berarti group antigen, pol mewakili
polymerase, dan env adalah kepanjangan dari envelope (Hoffmann,
Rockhstroh, Kamps,2006). Gen gag mengode protein inti.
Gen pol mengode enzim reverse transcriptase,
protease, integrase. Gen env mengode komponen structural HIV
yang dikenal dengan glikoprotein. Gen lain yang ada dan juga penting dalam
replikasi virus, yaitu : rev, nef, vif, vpu, dan vpr.
Siklus Hidup HIV
Sel pejamu yang terinfeksi oleh HIV memiliki
waktu hidup sangat pendek; hal ini berarti HIV secara terus-menerus menggunakan
sel pejamu beru untuk mereplikasi diri. Sebanyak 10 milyar virus dihasilkan
setiap harinya. Serangan pertama HIV akan tertangkap oleh sel dendrite pada
membrane mukosa dan kulit pada 24 jam pertama setelah paparan. Sel yang
terinfeksi tersebut akan membuat jalur ke nodus limfa dan kadang-kadang ke
pembuluh darah perifer selama 5 hari setelah papran, dimana replikasi virus
menjadi semakin cepat.
Siklus hidup HIV dapat dibagi menjadi 5 fase,
yaitu :
Masuk
dan mengikat
Reverse transkripstase
Replikasi
Budding
Maturasi
3. Tipe
dan sub-tipe dari virus HIV.
Ada 2 tipe HIV yang menyebabk
an AIDS: HIV-1 yang HIV-2. HIV-1 bermutasi
lebih cepat karena reflikasi lebih cepat. Berbagai macam subtype dari HIV-1
telah d temukan dalam daerah geografis yang spesifik dan kelompok spesifik
resiko tinggi
Individu dapat terinfeksi oleh subtipe yang
berbeda. Berikut adalah subtipe HIV-1 dan distribusi geografisnya:
Sub tipe A: Afrika tengah
Sub tipe B: Amerika
selatan,brasil,rusia,Thailand
Sub
tipe C: Brasil,india,afrika selatan
Sub
tipe D: Afrika tengah
Sub
tipe E:Thailand,afrika tengah
Sub
tipe F: Brasil,Rumania,Zaire
Sub
tipe G: Zaire,gabon,Thailand
Sub
tipe H: Zaire,gabon
Sub
tipe O: Kamerun,gabon
Sub
tipe C sekarang ini terhitung lebih dari separuh dari semua infeksi HIV baru d
seluruh dunia.
4. Efek
dari virus HIV terhadap system imun
Infeksi
Primer atau Sindrom Retroviral Akut (Kategori Klinis A)
Infeksi primer berkaitan dengan periode waktu
di mana HIV pertama kali masuk ke dalam tubuh. Pada waktu terjadi infeksi
primer, darah pasien menunjukkan jumlah virus yang sangat tinggi, ini berarti
banyak virus lain di dalam darah.
Sejumlah virus dalam darah atau plasma per
millimeter mencapai 1 juta. Orang dewasa yang baru terinfeksi sering
menunjukkan sindrom retroviral akut. Tanda dan gejala dari sindrom retrovirol
akut ini meliputi : panas, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, diare,
berkeringat di malam hari, kehilangan berat badan, dan timbul ruam. Tanda dan
gejala tersebut biasanya muncul dan terjadi 2-4 minggu setelah infeksi,
kemudian hilang atau menurun setelah beberapa hari dan sering salah terdeteksi
sebagai influenza atau infeksi mononucleosis.
Selama imfeksi primer jumlah limfosit CD4+ dalam
darah menurun dengan cepat. Target virus ini adalah limfosit CD4+ yang
ada di nodus limfa dan thymus. Keadaan tersebut membuat individu
yang terinfeksi HIV rentan terkena infeksi oportunistik dan membatasi kemampuanthymus untuk
memproduksi limfosit T. Tes antibody HIV dengan menggunakan enzyme
linked imunoabsorbent assay (EIA) akan menunjukkan hasil positif.
5. Cara
penularan HIV/AIDS
Virus
HIV menular melalui enam cara penularan, yaitu :
1. Hubungan
seksual dengan pengidap HIV/AIDS
Hubungan seksual secara vaginal, anal, dan
oral dengan penderita HIV tanpa perlindungan bisa menularkan HIV. Selama
hubungan seksual berlangsung, air mani, cairan vagina, dan darah dapat mengenai
selaput lender vagina, penis, dubur, atau mulut sehingga HIV yang terdapat
dalam cairan tersebut masuk ke aliran darah (PELKESI, 1995).
Selama
berhubungan juga bisa terjadi lesi mikro pada dinding vagina, dubur, dan mulut
yang bisa menjadi jalan HIV untuk masuk ke aliran darah pasangan seksual
(Syaiful, 2000).
2. Ibu
pada bayinya
Penularan HIV dari ibu pada saat kehamilan
(in utero). Berdasarkan laporan CDC Amerika, prevalensi HIV dari ibu ke bayi
adalah 0,01% sampai 0,7%. Bila ibu baru terinfeksi HIV dan belum ada gejala
AIDS, kemungkinan bayi terinfeksi sebanyak 20% sampai 35%, sedangkan kalau
gejala AIDS sudah jelas pada ibu kemungkinannya mencapai 50% (PELKESI, 1995).
Penularan juga terjadi selama proses
persalinan melalui transfuse fetomaternal atau kontak antara kulit atau
membrane mukosa bayi dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan (Lily
V, 2004).
3. Darah
dan produk darah yang tercemar HIV/AIDS
Sangat cepat menularkan HIV karena virus
langsung masuk ke pembuluh darah dan menyebar ke seluruh tubuh.
4. Pemakaian
alat kesehatan yang tidak steril
Alat pemeriksaan kandungan seperti
speculum,tenakulum, dan alat-alat lain yang darah,cairan vagina atau air mani
yang terinfeksi HIV,dan langsung di gunakan untuk orang lain yang tidak
terinfeksi bisa menularkan HIV.(PELKESI,1995).
5. Alat-alat
untuk menoleh kulit
Alat tajam dan runcing seperti
jarum,pisau,silet,menyunat seseorang, membuat tato,memotong rambut,dan
sebagainya bisa menularkan HIV sebab alat tersebut mungkin di pakai tampa
disterilkan terlebih dahulu.
6. Menggunakan
jarum suntik secara bergantian
Jarum suntik yang di gunakan di fasilitas
kesehatan,maupun yang di gunakan oleh parah pengguna narkoba (injecting drug
user-IDU) sangat berpotensi menularkan HIV. Selain jarum suntik, pada para
pemakai IDU secara bersama-sama juga mengguna tempat penyampur, pengaduk,dan
gelas pengoplos obat,sehingga berpotensi tinggi untuk menularkan
HIV
tidak menular melalui peralatan makan,pakaian,handuk,sapu tangan,toilet yang di
pakai secara bersama-sama,berpelukan di pipi,berjabat tangan,hidup serumah
dengan penderita HIV/AIDS, gigitan nyamuk,dan hubungan social yang lain.
D. Manifestasi Klinis
Gejala dini yang sering
dijumpai berupa eksantem, malaise, demam yang menyerupai flu biasa sebelum tes
serologi positif. Gejala dini lainnya berupa penurunan berat badan lebih dari
10% dari berat badan semula, berkeringat malam, diare kronik, kelelahan,
limfadenopati. Beberapa ahli klinik telah membagi beberapa fase infeksi HIV
yaitu :
1.Infeksi HIV Stadium Pertama
Pada fase pertama
terjadi pembentukan antibodi dan memungkinkan juga terjadi gejala-gejala yang
mirip influenza atau terjadi pembengkakan kelenjar getah bening.
2.Persisten Generalized
Limfadenopati
Terjadi pembengkakan
kelenjar limfe di leher, ketiak, inguinal, keringat pada waktu malam atau
kehilangan berat badan tanpa penyebab yang jelas dan sariawan oleh jamur
kandida di mulut.
3.AIDS Relative Complex (ARC)
Virus sudah menimbulkan
kemunduran pada sistem kekebalan sehingga mulai terjadi berbagai jenis infeksi
yang seharusnya dapat dicegah oleh kekebalan tubuh. Disini penderita
menunjukkan gejala lemah, lesu, demam, diare, yang tidak dapat dijelaskan
penyebabnya dan berlangsung lama, kadang-kadang lebih dari satu tahun, ditambah
dengan gejala yang sudah timbul pada fase kedua.
4.Full Blown AIDS.
Pada fase ini sistem
kekebalan tubuh sudah rusak, penderita sangat rentan terhadap infeksi sehingga
dapat meninggal sewaktu-waktu. Sering terjadi radang paru pneumocytik, sarcoma
kaposi, herpes yang meluas, tuberculosis oleh kuman opportunistik, gangguan
pada sistem saraf pusat, sehingga penderita pikun sebelum saatnya. Jarang
penderita bertahan lebih dari 3-4 tahun, biasanya meninggal sebelum waktunya.
E. Komplikasi
a. Oral
Lesi
Karena kandidia, herpes simplek,
sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus
(HIV), leukoplakia oral, nutrisi,dehidrasi, penurunan berat badan,
keletihan dan cacat.
b. Neurologik
1. kompleks
dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada
sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik,
kelemahan, disfasia, dan isolasi social.
2. Enselophaty
akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan
elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise,
demam, paralise, total / parsial.
3. Infark
serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik
endokarditis.
4. Neuropati
karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)
c. Gastrointestinal
1. Diare
karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan
sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat
badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.
2. Hepatitis
karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik.
Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
3. Penyakit
Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai
akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal,
gatal-gatal dan siare.
d. Respirasi
Infeksi karena
Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan
strongyloides dengan efek nafas pendek ,batuk, nyeri,hipoksia, keletihan, dan gagal
nafas.
e. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus
: virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot,
lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi
skunder dan sepsis.
f. Sensorik
Pandangan
: Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
Pendengaran
: otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek
nyeri.
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Konfirmasi
diagnosis dilakukan dengan uji antibody terhadap antigen virus structural.
Hasil positif palsu dan negative palsu jarang terjadi.
2. Untuk
transmisi vertical (antibody HIV positif) dan serokonversi (antibody HIV
negative), serologi tidak berguna dan RNA HIV harus diperiksa. Diagnosis berdasarkan
pada amflikasi asam nukleat.
3. Untuk
memantau progresi penyakit, viral load (VL) dan hitung DC4
diperiksa secara teratur (setiap8=12 minggu). Pemeriksaan VL sebelum pengobatan
menentukan kecepatan penurunan CD4, dan pemeriksaan pascapengobatan
(didefinisikan sebagai VL <50 kopi/mL).
4. ELISA
(Enzyme-Linked ImmunoSorbent Assay) adalah metode yang digunakan
menegakkan diagnosis HIV dengan sensitivitasnya yang tinggi yaitu sebesar
98,1-100%. Biasanya tes ini memberikan hasil positif 2-3 bulan setelah infeksi.
5. WESTERN
blot adalah metode yang digunakan menegakkan diagnosis HIV dengan
sensitivitasnya yang tinggi yaitu sebesar 99,6-100%. Pemeriksaanya cukup sulit,
mahal, dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam.
6. PCR (polymerase
Chain Reaction), digunakan untuk :
a. Tes
HIV pada bayi, karena zat antimaternal masih ada pada bayi yang dapat
menghambat pemeriksaan secara serologis. Seorang ibu yan menderita HIV akan
membentuk zat kekebalan untuk melawan penyakit tersebut. Zat kekbalan itulah
yang diturunkan pada bayi melalui plasenta yang akan mengaburkan hasil
pemeriksaan, seolah-olah sudah ada infeksi pada bayi tersebut. (catatan : HIV
sering merupakan deteksi dari zat anti-HIV bukan HIV-nya sendiri).
b. Menetapakan
status infeksi individu yang seronegatif pada kelompok berisiko tinggi.
c. Tes
pada kelompok berisiko tinggi sebelum terjadi serokonversi.
d. Tes
konfirmasi untuk HIV-2, sebab ELISA mempunyai sensitivitas rendah untuk HIV-2.
7. Serosurvei,
untuk mengetahui prevalensi pada kelompok berisiko, dilaksanakan 2 kali
pengujian dengan reagen yang berbeda.
8. Pemeriksaan
dengan rapid test (dipstick).
G. Tata Laksana HIV
Belum ada penyembuhan untuk AIDS,
jadi perlu dilakukan pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk
mencegah Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan :
1. Melakukan
abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak
terinfeksi.
2. Memeriksa
adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak
terlindungi.
3. Menggunakan
pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human
Immunodeficiency Virus (HIV) nya.
4. Tidak
bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.
5. Mencegah
infeksi kejanin / bayi baru lahir.
Apabila
terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka pengendaliannya yaitu :
1. Pengendalian
Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan,
mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik, nasokomial, atau
sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi
bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien
dilingkungan perawatan kritis.
2. Terapi
AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk
penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat
replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim
pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya
<>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency
Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3
3. Terapi
Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang
meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi virus /
memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :
1. Didanosine
2. Ribavirin
3. Diedoxycytidine
4. Recombinant
CD 4 dapat larut
4. Vaksin
dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin
dengan agen tersebut seperti interferon, maka perawat unit khusus perawatan
kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian
untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.
5. Pendidikan
untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan sehat,hindari
stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.
6. Menghindari
infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat
reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
DAFTAR PUSTAKA
Widoyono.
2005. Penyakit Tropis: Epidomologi, penularan, pencegahan, dan
pemberantasannya.. Jakarta: Erlangga Medical Series
Muhajir.
2007. Pendidkan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Bandung: Erlangga
Staf
Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1993. Mikrobiolog
Kedokteran. Jakarta Barat: Binarupa Aksara
Djuanda,
adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Mandal,dkk.
2008. Penyakit Infeksi. Jakarta: Erlangga Medical Series
postingannya keren,
BalasHapus