BUMI CINTA
Penulis
: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit
: Ihwan Publishing House
Tahun
terbit : Januari 2011
Jumlah
halaman : 546 Halaman
Alur
: campuran
Penokohan
:
Protagonis
: Muhammad Ayyas
Devid
Shofia
Antagonis : Yelena
Linor
Tritagonis : Bu.Tyas
Eva
Profesor Tomskii
Doktor Anastasia
Palazzo
Hassan
Pak.Joko Santo
Sinopsis :
Saat itu di Moskwa sedang
musim dingin. Muhammad Ayyas, seorang pemuda dari Indonesia, bersama
dengan temannya yang bernama Devid berada di Moskwa, Rusia. Mereka saling
pangling karena setelah sembilan tahun mereka baru bertemu. Saat SMP dulu,
Ayyas adalah siswa yang paling kecil dan paling kurus di kelas. Namun, saat ini
Devid melihatnya sebagai sosok yang tinggi dan cukup gagah.
Mereka bersama mencari
kendaraan umum agar tidak repot mengangkut barang Ayyas ke sebuah apartemen.
Setelah itu, mereka dihampiri oleh seorang supir taksi. Supir taksi itu
menawarkan Ayyas dan Devid untuk menaiki taksinya. Namun, Devid tahu jika sang
supir taksi ingin mempermainkan mereka dengan menawarkan harga taksi yang
sangat mahal, yaitu 200 dolar. Terjadi tawar menawar harga antara Devid dengan
supir taksi. Devid meminta harga yang murah, namun supir taksi menawarkan harga
yang lebih mahal. Karena itulah, Devid bergegas pergi dan Ayyas mengikutinya.
Akhirnya, supir taksi
tersebut berkata setuju dengan harga taksi yang ditawarkan oleh Devid. Ayyas
dan Devid memasukkan koper mereka ke dalam bagasi. Sang supir hanya melihat,
sama sekali tidak ada basa-basi membantu mereka menaikkan koper. Mobil tua yang
digunakan sebagai taksi pun melaju kencang.
Di sepanjang perjalanan,
mereka bercerita masa kecil mereka. Ayas bercerita bahwa setelah SMP, ia
melanjutkan ke sebuah pesantren. Saat kelas tiga Aliyah, ia pindah ke Pesantren
Kajoran Magelang yang diasuh Kiai Lukman Hakim. Setelah lulus pesantren, Ayyas
sempat kuliah di IAIN Jakarta sambil mencoba memasukkan berkas ke Madinah,
ternyata Ia diterima di sebuah universitas di Madinah. Saat SMP, Ayyas sempat
dijuluki bandit kecil oleh Bu Tyas, guru Bahasa Inggris karena kelakuannya yang
sangat kelewatan. Ketika Bu Tyas menuliskan soal Bahasa Inggris di papan tulis,
Ayyas menjepret punggungnya memakai karet sehingga membuat Bu Tyas marah besar.
Saat itu, Ayyas mengganggap Bu Tyas adalah perempuan yang paling cantik yang
pernah ia lihat. Saat itu, Ayyas ingin melihat Bu Tyas marah. Karena itulah,
Ayyas menjepret punggung Bu Tyas menggunakan karet dengan sekuat tenaga. Saat
marah, ternyata wajah Bu Tyas sangat mengerikan. Sejak saat itu Ayyas tidak
lagi melihat wajah cantik Bu Tyas. Ia meminta maaf kepada Bu Tyas, karena saat
itu mereka di kelas tiga. Ayyas takut tidak bisa mengikuti ujian akhir.
Dan Devid berkata bahwa
Ayyas tidak semestinya datang ke Moskwa karena kecantikan Nonik-nonik Rusia.
Menurut Devid, Ayyas dapat rapuh dengan godaan perempuan Moskwa yang lebih
dahsyat dari godaan perempuan di Jawa. Godaan perempuan Rusia akan terus menguntit
bahkan di dalam mimpi.Ayyas merasa apa yang dikatakan Devid itu benar.
Teman-temannya dari Rusia saat kuliah di Madinah beberapa kali pernah
menyampaikan hal yang sama. Sebagian dari mereka memperlihatkan foto keluarga
mereka. Kaum perempuannya jarang yang tidak bermuka jelita. Ayyas memejamkan
mata dan berdoa kepada Allah agar mendapat perlindungan dari fitnah perempuan
Rusia.
Saat taksi melaju di koltso
Sadovaya, Ayyas bertanya tentang kemana Devid melanjutkan sekolah setelah SMP.
Devid menjawab, setelah SMP ia langsung pindah sekolah ke Bandung karena
ayahnya pindah tugas kesana. Selesai SMA, ia kuliah di Singapura. Di sana,
Devid berkenalan dengan mahasiswi Rusia, namanya Eva Telyantikova yang usianya
lebih tua, namun sangat cantik. Devid dan Eva sangat dekat, mereka hidup satu
rumah dnegna cara Barat. Mereka sama-sama lulus. Ketika Eva pulang ke rusia,
tepatnya ke St. Petersbug, Devid mengikutinya dan meninggalkan kuliah di
Singapura. Devid tinggal di St. Petersbug sampai sekarang. Sekarang, Devid dan
Eva berpisah. Eva hidup dengan lelaki dari Polandia, sementara Devid hidup
sendiri. Devid mengakui, ia sudah lama tidak hidup dengan cara Timur dan
menikmati hidup bebas cara Rusia tanpa banyak aturan seperti di Jawa atau di
Arab Saudi.
Sampai di dekat halte bis,
mobil tua itu berhenti dan mesinnya tetap menyala. Tetapi, Devid mengatakan
bahwa apartemen yang mereka tuju berada di Panfilovsky Pereulok di dekat White
House Residence. Lagi-lagi Devid dan sang supir berdebat tentang tarif taksi
karena sang supir meminta biaya tambahan. Akhirnya, sambil mengomel dan
mengumpat, sopir tua itu mengundurkan mobilnya pelan-pelan, kemudian ke
Smolenskaya Pereulok, dan melaju pelan ke utara.
Devid menunjuk seorang
gadis cantik yang terlihat akan memasuki mobil BMW SUV X5 hitam dan mengatakan
bahwa gadis itu lebih cantik dari Bu Tyas yang dahulu dikagumi oleh Ayyas. Ia
mengakui gadis Rusia yang ia lihat sekilas itu memang jelita. Tapi, gadis Rusia
yang ia temui di pesawat yang duduk tepat di sampingnya jauh lebih memesona.
Ayyas mengucap dalam hati,
ia merasa belum sampai ke Moskwa pun ia sudah terjerat oleh fitnah kecantikan
nonik muda Rusia. Ayyas tiba-tiba begitu merasa berdosa pada Ainal Muna, gadis
manis dari Kaliwungu Kendal yang sudah dipinangnya dan ia telah berjanji untuk
setia padanya.
Devid berani bertanding,
bahwa apa yang dikatakannya benar. Namun Ayyas kesal karena Devid hanya
membicarakan tentang perempuan. Tetapi Devid menyindirnya sebagai pendikte khas
Arab. Ayyas mengalihkan pembicaraan, dan tidak meladeni sindiran temannya yang
bernada mengolok-olok itu. Ayyas merasa Devid, satu-satunya orang yang ia kenal
baik di Moskwa tidak susah diandalkan sebagai teman yang akan mampu menjaga
iman dan kebersihan jiwanya. Ayyas hanya berharap, Allah akan memberikan belas
kasih padanya, sehingga ia selamat selama hidup di negeri komunis yang mulai
kapitalis ini.
Ketika sampai, Ayyas
memberikan uang 100 dollar miliknya, dan supir tua tersebut tidak memberikan
kembaliannya. Devid mentertawainya karena Ayyas tidak percaya dengan
perkataannya, namun apa yang ia katakan itu benar terjadi. Ayyas tidak
merelakan uang 50 dolar berada di tangan sang supir karena ia hanya sebagai
mahasiswa, bukan bos. Devid meminta sang sopir mengembalikan uang 100 dolar
milik Ayyas, karena ia mempunyai uang pas 50 dolar. Sang supir mengelabui
mereka dengan mengatakan bahwa uang 100 dolar itu pas dengan harga awal. Devid
mengancam akan memanggil teman-temannya dari Orekhovskaya Bratva akan
menagihnya pada sang supir. Mendengar nama gang Orekhovskaya yang penghuninya
terkenal keji, supir taksi itu ketakutan dan mengembalikan uang yang dimiliki
Ayyas, dan Devid memberikan uang pas yang ia janjikan.
Ketika akan hendak
mengangkat koper menuju kamar Ayyas di nomor 303 lantai tiga, Ayyas dan Devid
bertemu dengan seorang gadis Rusia yang memakai plato merah hati yang turun
agak tergesa-gesa, nama gadis itu adalah Yelena. Dan Yelena bertanya kepada
Devid, apakah benar Ayyas yang disampingnya itu akan menempati apartemen yang
satu lantai dengannya. Devid menangguk tanda bahwa itu benar. Devid menggoda
Ayyas untuk menggunakan kesempatan sebaik-baiknya karena Ayyas akan tinggal di
satu apartemen dengan Yelena. Ayyas marah besar dan mukanya merah padam, Ayyas
mengatakan ia masih waras dan tidak hidup bebas seperti Devid.
Sampai di tempat yang
dituju, yaitu kamar Ayyas, Devid menjelaskan semuanya kenapa ia mencarikan
apartemen untuk Ayyas yang tidak diharapkan oleh Ayyas. Bahwa apartemen
tersebut paling aman dan nyaman yang sesuai dengan anggaran yang diberikan
Ayyas. Biasanya ada satu orang yang satu negara dengan Ayyas dan teman-teman
dari Asia Tenggara, tetapi kali ini tidak ada. Jika Ayyas tinggal dengan
laki-laki, ia merasa tidak ada yang aman untuk Ayyas. Dan tinggal satu
apartemen bersama perempuan adalah alternatif satu-satunya, karena perempuan
masih berpikir ketika akan memasukkan laki-laki ke dalam rumahnya.
Devid pergi belanja untuk
membelikan apa yang dibutuhkan oleh Ayyas, yaitu kartu seluler, air mineral,
teh, gula, susu bubuk, madu, biskuit, gelas, piring, sendok, sabun mandi, dan
deterjen. Dan Devid juga pergi mengurus paspor dan immigration card milik
Ayyas. Ayyas mengambil air wudhu dan langsung shalat dan mreasa ujian imannya
di Moskwa akan berat. Satu jam kemudian, ketika Devid datang membawa makanan
dan barang-barang yang dipesannya, Ayyas tertidur lelap.
Yelena menangis karena
melihat pekerjaannya sebagai pelacur, namun sebenarnya tidak ada yang dicarinya
dan untuk apa dia hidup. Ia merasa tidak bahagia dengan ribuan dolar dari para
hidung belang. Akal sehatnya ingin kembali hidup bersih sebagai perempuan
bersih. Jika ia menginggalkan profesi yang dilakukannya saat ini, tidak ada
jaminan ia akan mendapatkan pekerjaan yang lebih menguntungkan.
Yelena melihat Ayyas
membaca Al-Qur’an ketika shalat dengan jelas, dan ia pernah mendengarya. Iya
begitu akrab dengan shalat selama bertahun-tahun, sebelum ia dibuang dari
keluarganya. Dan sejak saat itu ia menjadi agak benci dengan yang namanya
agama, tak terkecuali Islam. Suara Ayyas itu juga mengingatkannya dengan buah
hatinya Omarov. Lalu, Yelena bercerita dengan Ayyas tentang kehidupannya dari
dahulu sampai sekarang. Dan Ayyas kaget, karena Yelena mengatakan hal yang
tidak diperbolehkan dalam agama.
Tiba-tiba bel berbunyi.
Yelena mengatakan bahwa itu pasti Linor, teman satu apartemennya yang baru
pulang dan lupa membawa kunci. Yelena berkata kepada Linor, bahwa mereka
mempunyai teman baru dari Indonesia bernama Ayyas. Dan mereka saling
berkenalan. Namun, setelah mengetahu bahwa Ayyas beragama muslim karena berasal
dari Indonesia, Linor mencela bahwa banyak penganut agama yang menurutnya
primitif tersebut.
Beberapa hari kemudian,
Ayyas yang ditemani Yelena di sepanjang jalan menuju kampus MGU (Moskovskyj
Gosudarstbennyj Universiteit/ Universitas Negeri Moskwa), lalu mereka berpisah
di belakang kampus karena Yelena harus berangkat kerja sebagai agen wisata.
Ayyas melangkahkan kakinya menuju kampus dan menemui Profesor Tomskii. Ia harus
menunggu sang profesor di ruangannya karena sang profesor belum datang. Ia
menemui Profesor Tomskii karena tujuan utamanya ke Moskwa, Rusia adalah
melakukan penelitian tesis magister kepada Profesor Tomskii yang merupakan ahli
sejarah di Rusia. Ketika Profesor Tomskii tiba di ruangannya, ia mengatakan
bahwa ia akan melakukan penelitian Kehidupan Umat Islam Rusia di Masa
Pemerintahan Stalin.
Tetapi Profesor Tomskii
mengatakan bahwa Ayyas akan dibimbing oleh asistennya, yaitu Doktor Anastasia
Palazzo, karena sang profesor harus pergi ke Istanbul, Turki. Dengan Doktor
Anastasia, Ayyas menceritakan tujuannya mempelajari sejarah.
Hari mulai gelap. Ayyas
melangkahkan kakinya meninggalkan stasiun Prospek Mira. Ayyas terus berjalan,
sampai akhirnya ia melihat kubah bulat di sudut komplek Olimpiski. Ayyas
merasakan kebahagiaan luar biasa bahwa akhirnya ia melihat sebuah masjid.
Ketika memasuki masjid, Ayyas melihat ada puluhan orang yang membaca Al-Quran
karena saat itu tinggal lima menit lagi azam maghrib berkumandang. Ayyas shalat
dua rakaat, lalu mendekati imam, memperkenalkan dirinya kepada sang imam dan menyampaikan
tujuannya berada di Moskwa. Imam itu berasal dari kota Kazan, Tatarstan,
bernama Hasan Sadulayev. Ayyas bercerita tentang tujuannya di Moskwa. Imam
Hasan Sadulayev menawarkan Ayyas untuk menumpangi mobilnya, karena apartemen
yang Ayyas tuju berseberangan dengan tempat tinggalnya. Lalu mereka berjalan
menuju tempat parkiran mobil, dan sang imam memperingatkan Ayyas bahwa ujian
iman di Moskwa tidak ringan.
Ketika sampai di apartemen,
Ayyas berjalan di ruang tengah dan melihat perbuatan maksiat yang dilakukan
oleh Linor dan seorang lelaki bule. Ia masuk ke kamar, dan mengunci pintunya.
Lalu membunyikan nurattal sekeras-kerasnya sampai ia merasa aman. Terdengar
pintu kamarnya digedor dengan sangat keras setelah ia shalat, lalu Ayyas
melanjutkan shalatnya, dan pintu kamarnya kembali digedor-gedor. Selesai salam,
Ayyas bangkit dengan kemarahan yang menyala. Ayyas membuka pintu kamarnya, dan
di hadapannya, lelaki bule yang ia lihat di ruang tengah itu berdiri tegak
memelototinya dan memarahinya. Kemarahan Ayyas berlipat-lipat. Kemarahan bule
itu tidak tertahan lagi, ia ingin menghajar Ayyas sejadi-jadinya, dan
menganggap enteng pemuda Indonesia yang pernah belajar beberapa beladiri itu.
Ayyas dapat membaca jurus yang digunakan lelaki bule muda yang disebut sergei
itu, dan melakukan jurus berbeda. Linor yang menyaksikan hal itu menjerit dan
gemetar. Lalu Linor membawa sergei entah kemana.
Ayyas bercerita kepada
Yelena, bahwa Linor membawa Sergei dan mereka berbuat maksiat, dan sesudah itu
mereka bertengkar. Meskipun Sergei telah ia lumpuhkan, Ayyas meyakini bahwa
masalahnya dengan Sergei tidak akan selesai begitu saja. Dan Sergei pasti tidak
akan tinggal diam dan menggunakan segala cara untuk membalas dendam. Ayyas
berharap semoga tidak ada tetangga apartemen mereka yang melaporkan kejadian
saat ia dan sergei berkelahi.
Keesokan harinya, saat
Ayyas dan Linor terbangun, Ayyas bercerita kepada Linor bahwa ia khawatir
kejadian tadi malam akan diketahui oleh polisi. Linor mengkhawatirkan polisi
akan datang pagi ini. Ternyata dugaannya benar, belum sempat pembicaraan mereka
diteruskan, terdengar pintu diketuk berkali-kali. Ia mengintip dari lubang
pintu, dan berkata tanpa suara mengisyaratkan yang datang adalah polisi. Yelena
meminta Ayyas untuk masuk ke kamarnya, ia duduk dengan pasrah mengkhawatirkan
Linor dan Yelena memfitnah dan mengirimnya ke penjara karena ia sudah mulai
tahu bahwa Linor sangat tidak menyukai dirinya, hanya karena dirinya seorang
muslim.
Polisi bertanya tentang
kekacauan tadi malam yang berada di apatermen Yelena dan Linor. Linor
membantah, dan mengatakan bahwa itu hanyalah kekacauan kecil karena
kecemburuannya kepada pacarnya. Dan membantah itu hanya persoalan kecil anak
muda, dan tidak harus memperbesar masalahnya. Polisi memaafkan kelakuan Linor
dan pacarnya, namun memperingatkan jika lain kali kalau ribut dengan pacar
jangan sampai mengganggu orang lain.
Di kampus MGU, Dokor
Anastasia menunggu Ayyas di dalam kampus. Ia mondar-mandir di ruang Profesor
Tomskii, tidak tahu harus berbuat apa. Ia berkata kepada dirinya sendiri,
karena Ayyas tidak datang, ia terlihat seperti orang dungu. Doktor Anastasia
menganggap Ayyas samasekali tidak menghormatinya sebagai pembimbing, karena
tidak datang tanpa memberi pemberitahuan atau izin. Lalu ia iseng membuka
ponselnya, ada dua SMS masuk, dari Profesor Lyudmila Nozdryova dan Ayyas.
Hatinya langsung berdesir melihat SMS dari pemuda itu, dan langsung membaca isi
SMS Ayyas. Isi SMS Ayyas memberitahukan bahwa hari ini ia tidak datang ke
kampus karena mengalami kecelakaan di apartemen, pundak kirinya sakit, dan
ingin mengobatkan pundak kirinya.
Saat yang sama, Ayyas
berada di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Moskwa untuk mengobati pundak
kirinya yang sakit kepada Pak Joko Santo, seorang guru Sekolah Indonesia yang
ahli mengurut. Pak Joko mengetahui, engsel tulang pada pundak Ayyas tidak pada
tempatnya karena terkena benturan atau pukulan benda keras. Ayyas membenarkan,
dan menceritakan kepada Pak Joko bahwa pundak kirinya sakit karena pukulan
orang Rusia dan tadi malam ia berkelahi dengan orang Rusia. Ayyas berterima
kasih kepada Pak Joko karena telah membetulkan pundaknya yang sakit. Ayyas dan
Pak Joko langsung akrab, lalu Pak Joko bertanya banyak hal kepada Ayyas. Dan
Ayyas mengatakan kepada Pak Joko bahwa ia ingin pindah tempat sewa walaupun
mengorbankan materinya, karena di apatermen yang ditempatinya saat ini ia
merasa tidak kuat dengan ujian perempuan.
Pak Joko mengajak Ayyas
keluar makan siang di restoran Lyudi di utara KBRI, tepatnya menghadap kanal.
Tepat selangkah di luar pintu ketika Ayyas keluar dari restoran, Ayyas melihat
Yelena yang sedang digandeng lelaki hitam besar dan mereka bercengkrama. Ayyas
dan Yelena saling menyapa. Lalu Pak Joko menanyakan kepada Ayyas apakah pemuda
itu mengenal Yelena. Ayyas mengaku mengenal Yelena, sebagai teman satu
apatermennya dan Yelena bekerja di agen pariwisata sebagai guide para
wisatawan. Pak Joko menceritakan siapa Yelena sebenarnya, bahwa nama populer
Yelena adalah Lisa Nikolaevna, ia seorang pelacur papan atas. Dan belum lama
ini, Yelena dipakai seorang pejabat dari Jakarta yang berkunjung ke Moskwa.
Mendengar keterangan Pak Joko, tubuh Ayyas langsung gemetar. Perbuatan Linor
yang seperti biang jalang sudah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, dan
kini ia mengetahui siapa Yelena sebenarnya. Ia tidak bisa membayangkan apakah
ia akan selamat jika terus tinggal bersama dua perempuan yang hidup sangat
bebas. Pak Joko berjanji akan membantu semampunya untuk memindahkan Ayyas dari
apatermen itu. Selesai shalat Zuhur, Ayyas menuju ke kampus MGU, tepatnya di
ruangan Profesor Tomskii untuk membaca dan melakukan kegiatan lainnya, seperti
menyalakan ayat-ayat suci Al-Qur’an pada laptopnya, dan juga shalat.
Di malam hari, ada seorang
perempuan yang dilempar dari mobil yang tak lain adalah Yelena. Ia merasa
seluruh tubuhnya remuk. Yelena berusaha sekeras-kerasnya meminta tolong, namun
pita ysuaranya seperti sudah putus. Yelena tiba-tiba dicekam rasa takut yang
luar biasa. Yelena meneteskan airmata. Ia merasa sedang berada di gerbang
kematian. Ia sangat takut, ia tidak siap untuk mati. Dan ia masih ingin hidup.
Ia ingat akan ponsel di saku paltonya, untuk menghubungi polisi ataupun Linor.
Tetapi ia seperti tidak bisa lagi bergerak. Ia terus memaksa tangannya untuk
meraih ponselnya. Ponsel berhasil diraihnya, namun ia ingat sejak siang baterai
ponselnya lemah. Ia langsung putus asa. Dalam cemas dan rasa takut yang tiada
terkira, Ia meminta kepada Tuhan agar diberi kesempatan untuk tetap hidup dan
mengulurkan tangan pertolongaNya.
Di ruangan Profesor
Tomskii, Ayyas asyik membaca buku sampai jam sebelas malam. Ayyas meminta
kepada seorang polisi penjaga kampus untuk memperbolehkannya berada di ruang
profesor sampai pagi untuk melakukan riset perpustakaan. Tetapi polisi
itu tidak memperbolehkannya, karena aturan untuk diizinkan menggunakan ruangan
profesor hanya sampai jam sebelas malam. Ayyas berjalan menuju stasiun
Universite, dan menuju stasiun Metro dengan malas karena di apartemennya ada
Yelena dan Linor yang menurut Ayyas udah tidak punya harga diri dan jiwa
kemanusiaan. Sampai di stasiun Arbatskaya, Ayyas turun dan mengganti metro. Dan
ketika keluar dari stasiun Smolenskaya, ia ingin mencari gastromon (toko
makanan yang menjual makanan berukuran sedang).
Ada pemuda yang bersedia
menolong Yelena setelah beberapa orang dimintai pertolongan oleh seorang ibu
yang menemukan Yelena, tidak bersedia membantu. Pemuda itu tidak lain adalah
Ayyas yang kebetulan lewat di sana. Akhirnya Yelena dilarikan ke rumah sakit.
Dokter mengatakan bahwa kalau terlambat sedikit saja dibawa ke rumah sakit,
maka Yelena tidak akan tertolong. Sejak saat itu, Yelena sangat berterimakasih
kepada Ayyas. Bahkan ia mulai mempercayai Tuhan. Kepercayaan dirinya bahwa
Tuhan benar-benar ada semakin mantap setelah menyaksikan dan mendengar seminar
tentang ketuhanan yang diisi oleh cendekia-cendekia Rusia, termasuk Ayyas salah
satunya.
Tidak lama setelah itu,
Devid yang selama di Rusia menganut gaya hidup bebas, merasa tidak tahan lagi.
Ia ingin segera menikah. Ia sempat ingin dinikahkan dengan adik seorang ustad.
Tapi ia merasa tidak pantas. Lalu ia minta tolong Ayyas mencarikan calon istri
untuknya. Ayyas menyarankannya dengan Yelena. Akhirnya Yelena mengucap dua
kalimat sahadat dan memeluk Islam serta menikah dengan Devid. Mereka hidup
bahagia.
Linor pergi ke Kiev,
Ukraina menemui ibunya yang sudah hampir satu tahun tidak ditemuinya. Ibunya
yang bernama Ekaterina Corsova menceritakan siapa Linor sebenarnya. Linor
adalah anak perempuan Palestina dari Salma Abdul Aziz, salah satu korban dalam
pembantaian di Sabra dan Shatila. Linor baru menyadari betapa jahatnya dia,
menjadi agen rahasia Israel yang menjadi bagian dari penyebab hilangnya nyawa
orang Palestina yang ternyata adalah saudaranya sendiri. Ekaterina menyuruh Linor
memeluk agama Islam, agama yang telah dipeluknya selama setahun terakhir.
Ayyas nampak bahagia, sejak
sore ia sudah resmi meninggalkan apatermennya di Panvilovsky Pereulok di
kawasan Smolenskaya ke Aptekarsy Pereulok di kawasan Baumanskaya, yang tak lain
adalah rumah Pak Joko. Malam itu Ayyas menata kamarnya sesuai keinginanya.
Setelah Pak Joko menyelesaikan tugasnya, ia memanggil Ayyas mencari makan malam
di sebuah restoran. Sampai di depan restoran, Yelena menghubungi Ayyas dan
menanyakan apakah tas milik Ayyas tertinggal di apartemennya dulu. Tetapi Ayyas
tidak merasa, dan mengira tas itu milik seorang penghuni yang menempati
kamarnya sebelum dia.
Pagi hari sebelum matahari
terbit, Ayyas bersama Doktor Anastasia Palazzo menuju ke sebuah studio karena
mereka menjadi pembicara dalam sebuah talkshow “Rusia Berbicara”. Dalam
talkshow tersebut, Doktor Anastasia Palazzo dan Ayyas berhasil menjawab
pertanyaan dengan baik. Namun ketika seorang ibu setengah baya bermantel
cokelat ingin berbicara, tetapi tiba-tiba Direktur Program memberi isyarat agar
acara disela dengan iklan. Karena ada kejadian luar biasa di Moskwa, yaitu bom
meledak di lobby Metropole Hotel, puluhan orang tewas dan puluhan lainnya
terluka.
Beberapa saat setelah
berdebat dengan Ayyas tentang agama yang mereka yakini, tiba-tiba ponsel Doktor
Anastasia berdering. Ada telepon dari Prof. Lyudmila Nozdryova, Guru Besar Ilmu
Bedah Jantung Fakultas Kedokteran. Ia memberitahukan bahwa ada sebuah berita
bom meledak di lobby Metropole Hotel di sebuah stasiun televisi dan pelaku
pemboman tersebut tak lain adalah… Ayyas! Mahasiswa asal Indonesia yang
dibimbingnya. Doktor Anastasia tidak percaya, karena tadi baru saya ia
menyelesaikan acara talkshow “Rusia Berbicara” bersama Ayyas di sebuah stasiun
televisi. Doktor Anastasia berpikir, tidak mungkin satu orang berada di dua
tempat yang berbeda dalam waktu yang sama. Berkat alibi yang sangat kuat, Ayyas
terbebas dari tuduhan tersebut.
Linor sang agen
Mossad yang menyusun rencana untuk membuat Ayyas sebagai pelaku pemboman,
biasanya bersedih karena rencananya gagal, tetapi kali ini ia tidak
bersedih rencana jahatnya kepada Ayyas menjadi gagal, karena
Ayyas tidak jadi celaka karena perbuatannya.
Setelah mendapatkan
informasi yang meyakinkannya, Linor akhirnya memeluk Islam
dan memakai nama aslinya, Sofia. Sofia telah bertemu dengan
Ayyas, namunbelum mendapatkan kepastian dari Ayyas pada saat itu. Karena
Ayyas tidak langsung memberikan jawaban, ia pun pamit dan berharap Ayyas
bisa memberikan kepastian keesokan harinya. Saat Sofia sudah berada di halaman
depan rumah, Ayyas berubah pikiran. Ia akan langsung menerima dan menyanggupi
untuk menjadi suami Sofia. Namun Sofia sudah terlalu jauh. Ayyas langsung
bergegas ke jendela untuk meneriakkan bahwa ia sanggup. Tapi Sofia sudah
terlihat sangat jauh. Dan di belakangSofia, Ayyas melihat ada sebuah mobil
hitam yang dikendarai melaju ke arahnya. Ayyas melihat orang dalam mobil
tersebut memegang senjata api. Ayyas berteriak memperingatkan Sofia. Namun
terlambat, Doooorrrrr…. Sofia pun roboh saat itu juga. Ternyata orang tersebut
menembak Sofia. Ayyas langsung terkulai lemas tak berdaya
menyaksikan Sofia yang telah jatuh bersimbah darah. Ia pun
mengumpulkan segenap tenaga yang tersisa dan kemudian berlari ke arah Sofia
yang telah terkapar. Ia mengangkat Sofia ke pangkuannya. Sofia bersimbah darah.
Ia langsung meminta bantuan untuk membawa Sofia ke rumah sakit.
Tidak lama kemudian ada
seorang ibu yang mengendarai mobil di dekat sana. Ayyas meminta bantuan kepada
ibu tersebut, dan mobil tersebut langsung melaju ke rumah sakit terdekat untuk
mendapatkan pertolongan pertama kepada Sofia yang tertembak. Ayyas sangat
menyesal, mengapa ia tidak langsung menjawab permintaan dari Sofia tadi. Dengan
penuh penyesalan, Ayyas menangis terisak. Isakan seorang pencinta sejati, yang
mencintai kekasihnya karena Allah, lalu kehilangan kekasihnya karena Allah
pula.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar